Kelahiran dan Masa Muda
Siddhattha Gotama lahir dalam lingkungan suku Sakya dan dibesarkan sebelum meninggalkan kehidupan rumah tangga.
Kehidupan manusia bersifat berubah dan tidak memberi kepuasan kekal.
เส้นทางชีวิตของเจ้าชายสิทธัตถะสู่การตรัสรู้ การประกาศพระธรรม และปรินิพพาน โดยแยกแหล่งพระไตรปิฎกออกจากคัมภีร์และประเพณีภายหลังอย่างชัดเจน
Siddhattha Gotama lahir dalam lingkungan suku Sakya dan dibesarkan sebelum meninggalkan kehidupan rumah tangga.
Kehidupan manusia bersifat berubah dan tidak memberi kepuasan kekal.
Siddhattha meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk mencari pembebasan dari penderitaan.
Pencarian Dhamma berangkat dari pengenalan terhadap dukkha dan keinginan memahami jalan keluarnya.
Setelah menjalani latihan asketik yang ekstrem, Gotama meninggalkan penyiksaan diri sebagai jalan menuju kebangkitan.
Jalan Tengah menghindari pemanjaan indria dan penyiksaan diri.
Gotama mencapai kebangkitan dan menjadi Sammāsambuddha.
Pencerahan menegaskan kemungkinan pembebasan melalui pemahaman, latihan, dan pelepasan.
Buddha menyampaikan pengajaran awal kepada lima pertapa.
Empat Kebenaran Mulia menjadi kerangka pokok memahami dukkha, sebabnya, berakhirnya, dan jalan latihan.
Komunitas para siswa yang menjalani kehidupan monastik berkembang sebagai Saṅgha.
Latihan tidak hanya bersifat pribadi; komunitas praktik mendukung disiplin, pembelajaran, dan kebajikan.
Buddha mengajar berbagai lapisan masyarakat dan membimbing para siswa dalam Dhamma-Vinaya.
Dhamma disampaikan sesuai kebutuhan pendengar, namun berulang kali menekankan etika, meditasi, kebijaksanaan, dan pelepasan.
Empat Kebenaran Mulia, Jalan Mulia Berunsur Delapan, ketidakkekalan, dukkha, dan bukan-diri merupakan tema penting dalam khotbah-khotbah awal.
Riwayat Sang Buddha sebaiknya membawa pembaca menuju praktik, bukan sekadar informasi sejarah.
Menjelang akhir kehidupan, Buddha tetap menekankan Dhamma-Vinaya dan kesungguhan dalam latihan.
Ketergantungan pada prinsip Dhamma dan perhatian penuh lebih penting daripada kultus pribadi.
Buddha memasuki Parinibbāna di Kusinārā.
Semua yang terkondisi tidak kekal; karena itu latihan menuntut ketekunan.